Skip to content
Admin 1
Admin 2
Admin 3
Admin 4
CALL US : 0851-7206-7780
Kabupaten Bandung Barat
Sangkuriang Outdoor Services

Follow Social Media :

CALL US : 0851-7206-7780
Sangkuriang Outdoor Services

Ikuti Kami :

Sub Header Kom - Sangkuriang - Adventure
Sub Header HP-sangkuriang-advanture
Home
Eco Village Trip & Eco Camp
Sangkuriang Outdoor Services
profile-sangkuriang-advanture
Eco Village Trip & Eco Camp

We Serve The Best Quality

Kami mitra terpercaya Anda untuk penyelenggaraan Eco Village Trip & Eco Camp yang luar biasa. Dengan keahlian dan pengalaman kami dalam mengatur acara khusus, kami siap membuat momen spesial Anda menjadi berkesan dan tak terlupakan.
Layanan Terbaik
Kami selalu memberikan layanan terbaik dengan standar tinggi yang sesuai dengan kebutuhan klien.
Inovasi
Kami selalu berinovasi untuk menghadirkan solusi terbaik bagi klien.

Eco Village Trip & Eco Camp merupakan wahana yang tepat sebagai sarana pembelajaran yang bermuatan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya tidak hanya belajar ilmu secara teori tetapi belajar di lapangan

Program Kemah Konservasi, yang bertujuan agar peserta didik yang terdiri dari siswa-siswi SLTP dan SMU mempunyai pengetahuan, sikap dan kesadaran yang tinggi tentang lingkungan. Pendekatan yang dilakukan oleh para pengelola kawasan konservasi adalah program pendidikan lingkungan yang edukatif namun sekaligus rekreatif dengan metode pengajaran langsung berdekatan dengan alam / lingkungan pada kawasan konservasi tersebut (resource based learning).

Penelitian ini akan mengetahui sejauhmana hubungan Program Kemah Konservasi dengan pengetahuan dan sikap peserta tentang lingkungan.

Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengetahui hubungan Program Kemah Konservasi dengan pengetahuan peserta tentang lingkungan; (2) untuk mengetahui hubungan Program Kemah Konservasi dengan sikap peserta tentang Iingkungan.

Temukan  pembelajaran menarik melalui layanan Eco Village Trip & Eco Camp dengan bantuan Sangkuriang Outdoor Services. Segera hubungi kami untuk konsultasi dan penawaran layanan kami yang komprehensif. Mari jadikan setiap momen menjadi momen tak terlupakan dalam petualangan Eco Village Trip & Eco Camp bersama kami!

Paket Eco Village Trip & Eco Camp
Miduana.png
1
Paket Kampung Adat Miduana
Salah satu destinasi wisata dengan budaya Sunda yang cukup kental di Jawa Barat ada di Kampung Adat Miduana. Saat berwisata di Kampung ini, kamu  akan dengan mudah bertemu dengan warga kampung berusia di atas 100 tahun yang masih terlihat bugar bahkan beraktivitas di sekitar kampung.  Kondisi lingkungan yang segar di daerah pegunungan dan gaya hidup tradisional yang dipegang masyarakat adat Miduana menjadi rahasia bugarnya warga lansia di sini. Selain itu, budaya leluhur juga masih dipegang erat oleh masyarakat kampung Miduana mulai dari cara berpakaian hingga berkegiatan sehari-hari. Tertarik berwisata di Kampung Adat Miduana? Kamu bisa mengaksesnya melalui dua jalur yaitu melewati Kabupaten Bandung atau jalur selatan di Kabupaten Cianjur. Siap-siap, selama perjalanan kamu juga akan disuguhi pemandangan alam mulai dari hamparan kebun teh hingga air terjun yang memanjakan mata, loh!
Ciptagelar.png
2
Paket Kampung Adat Ciptagelar
Salah satu kampung yang masih memegang erat adat istiadat lebih dari 640 tahun yang lalu ada di Kampung Adat Ciptagelar. Masyarakat yang bermukim di kampung ini termasuk dalam masyarakat Banten Kidul yang wilayahnya sendiri tersebar di 3 kabupaten yaitu Lebak, Bogor dan Sukabumi. Berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun, Kampung atau Kasepuhan Adat Ciptagelar menyajikan pemandangan dan suasana khas pegunungan yang masih sejuk dan asri. Selain lingkungan yang masih terjaga, arsitektur bangunan hingga sistem pemerintahan yang masih dijaga sejak zaman dahulu menjadi daya tarik tersendiri bagi kampung adat satu ini.  Meski dikenal getol menjaga kelestarian alam dan budayanya, Kampung Adat Ciptagelar juga tak kalah mengikuti perkembangan zaman. Hal ini terbukti dengan adanya listrik tenaga turbin yang dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat setempat untuk menerangi seluruh rumah adat yang ada di sini sejak tahun 2017. Inovasi yang patut diacungi jempol, bukan?
Mahmud.png
3
Paket Kampung Adat Mahmud
Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum bermukim masyarakat adat di sebuah kawasan bernama Kampung Adat Mahmud. Sejumlah kurang lebih 1.200 orang yang tersebar di 4 RT dan 1 RW tinggal di kampung in yang sebagian besar bekerja sebagai pedagang, petani hingga pegawai negeri dan swasta.  Kata Mahmud pada kampung ini berakar dari bahasa Arab yakni Mahmuudah yang berarti puji atau deudeuh dalam bahasa Sunda yang artinya kasih sayang yang penuh rasa ikhlas. Kampung ini juga dikenal dengan kehidupan bermasyarakat yang kental berpedoman pada agama. Bukan tanpa alasan, konon Kampung Mahmud menjadi salah satu pusat persebaran Islam di masa lalu oleh Eyang Syeikh Dalem Abdul Manaf yang juga merupakan keturunan Sunan Gunung Djati. Tak heran, Kampung Mahmud juga sampai saat ini masih sering dijadikan tempat tujuan berziarah khususnya di hari-hari besar Islam. 
Cikondang.png
4
Paket Kampung Adat Cikondang
Sedang berwisata di Kota Kembang? Sekitar 38 KM dari pusat Kota Bandung, kamu bisa menemukan sebuah kampung adat yang masih kental dengan budaya Sunda, loh! Berlokasi di Kecamatan Pangalengan, ada Kampung Adat Cikondang yang konon dinamakan demikian karena adanya mata air yang ditumbuhi oleh pohon Kondang.  Di kampung adat satu ini, kamu bisa menjumpai Rumah Adat Cikondang yang telah berusia lebih dari 200 tahun. Dulunya, terdapat puluhan rumah adat di kampung namun lenyap akibat kebakaran pada tahun 1942 dan hanya menyisakan satu rumah adat yang juga dikenal dengan bumi adat.  Rumah Adat Cikondang memiliki arsitektur khas sunda dengan bangunan berbahan dasar utama bambu dan atap berbentuk julang ngapak berlapis ijuk. Hingga saat ini, Rumah Adat Cikondang menjadi tempat utama bagi masyarakat Cikondang untuk mengadakan berbagai kegiatan dan upacara adat.
Kranggan.png
5
Paket Kampung Adat Kranggan
Kampung Adat Kranggan yang berada di Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi ini masih bisa eksis berdiri di tengah hiruk pikuk perkotaan. Kampung Adat Kranggan diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-15 Masehi dan saat ini telah ada di generasi ke sembilan.  Berbagai kearifan lokal masih dilestarikan di Kampung Adat Kranggan, salah satunya pakaian adat dengan motif kotak-kotak bernama Baju Cele dan rumah adat yang saat ini hanya tersisa lima unit dan sangat khas dengan bentuk panggungnya. Selain itu, kampung ini juga sering dikunjungi sebagai tempat berziarah oleh wisatawan dari luar daerah.  Tak ketinggalan, Museum Budaya Kranggan juga berencana dibangun dan dirancang secara langsung oleh Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, yang juga berlatar belakang arsitek di Kampung Adat Kranggan ini. Dengan berdirinya museum ini, tentunya kebudayaan Jawa Barat akan semakin untuk diakses khususnya bagi generasi millennial dan gen Z. 
Urug.png
6
Paket Kampung Adat Urug
Di arah barat daya Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, terletak sebuah kampung yang cukup kental dengan tradisi kesundaannya yakni Kampung Adat Urug atau Lembur Urug. Selain masyarakat adat, arsitektur bangunan khas rumah adat sunda juga bisa dengan mudah ditemukan di pemukiman Kampung Adat Urug.  Menurut kepercayaan masyarakat setempat, nama kampung ini berasal dari kata “Guru” yang dibaca terbalik menjadi “Urug”. Selain itu, kampung ini juga dipercaya telah berdiri sejak 450 tahun yang lalu pada masa pemerintahan Prabu Nilakendra (1551 – 1569 M). Berbagai upacara adat mulai dari Seren Taun dan Ngabuli setiap bulan Muharram, Upacara Rewah dan Sedekah Bumi setiap bulan Sya’ban hingga Muludan setiap 12 Maulud masih rutin diadakan di Kampung Adat Urug. Tertarik berwisata di kampung adat satu ini?
Kampung Naga.png
7
Paket Kampung Naga
Naga pada nama kampung ini bukan melambangkan hewan mitos, melainkan berasal dari bahasa Sunda nagawir yang berarti dikelilingi tebing atau jurang (gawir). Masyarakat Desa Neglasari, Kabupaten Tasikmalaya tersebut masih memegang erat adat istiadat dari leluhurnya. Mereka hidup dalm kesahajaan, tanpa alat elektronik dan kendaraan Inilah satu dari 6 adat Jawa Barat. Seluruh bangunan di kampung ini pun sama persis, yakni rumah panggung yang terbuat dari kayu. Atapnya berupa daun nipah, juk, atau alang-alang. Rumah di sini memiliki dua pintu yang sejajar. Pasalnya, masyarakat meyakini ya pintu belakang akan membuat rezeki yang masuk dari pintu depan bisa keluar lewat belakang. Jumlah rumah di Kampung Naga juga tidak pernah berubah, yakni 112 unit. Jika ada penduduk yang ingin membangun rumah baru, harus berada di luar kampung. Mereka kemudian akan menyandang predikat warga adat luar. Jika ingin menginap, dapat membuat janji terlebih dulu dengan pemandu setempat. Namun pelancong hanya boleh menginap maksimal satu hari. Jangan lupa pelajari aturan tinggal di sini. Salah satunya, tidak boleh memasuki kawasan hutan larangan, apalagi memetik buahnya. Ini bukan karena alasan mistis, melainkan agar amnya tetap lestari. Bahkan penduduk yang membutuhkan kayu bakar pun hanya boleh mengambil ranting yang sudah jatuh di sungai atau tanah sekitar hutan. Berkunjung ke sini belum lengkap jika tidak mencoba sajian kulinernya. Ada pipis, kue singkong yang diisi gula. Menyantap makanan ini lebih nikmat jika ditemani bajigur yang hangat dan manis. Selain kuliner, sempatkan pula membeli kerajinan tangan dan penduduk Kampung Naga.
Cireundeu.png
8
Paket Kampung Adat Cireundeu
Kampung Cirendeu berada di kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi Berbeda dari kampung adat lainnya, tanaman pertaniannya bukan padi, melainkan singkong. Maka, masyarakat tidak mengonsumsi beras sebagai makanan pokok, tetapirasi, singkatan dari beras singkong. Demi kelestarian alam, penduduk membagi hutan menjadi tiga bagian, yaitu leuweung larangan (hutan larangan), leuweung tutupan(hutan reboisasi), dan leuweung baladahan (hutan pertanian). Hutan larangan tidak boleh ditebang agar ketersediaan air tetap terjaga. Pohon hutan reboisasi boleh ditebang untuk pembangunan tetapi harus ditanami lagi. Sementara hutan pertanian boleh dibuka untuk bercocok tanam ketela, jagung, atau umbi-umbian Salah satuprinsip hidupnya adalah “Ngindungka waktu, mibapa ka jaman.” Artinya, senantiasa melestarikan cara, cri dan keyakinan masing-masing, tetapi tetap beradaptasi pada perubahan zaman. Misalnya, mengikuti perkembangan teknologi berupa listrik, televisi, atau ponsel. Jika berkunjung pada malam tahun baru Saka Sunda yang biasanya jatuh pada Oktober,wisatawan akan berkesempatan menyaksikan Upacara Syura-an yang dirayakan sebagai rasa syukur atas rahmat Tuhan. Para pemuka adat, warga, dan pemerintah kota akan datang dan turut meramaikan acara adat tersebut.
Kuta.png
9
Paket Kampung Adat Kuta
Kerap dijuluk sebagai kampung seribu pantangan, kampung adat Kuta memang memiliki banyak peraturant Tujuannya tak lam untuk menjaga agar alam sekitar dan tradisi leluhur tetap lestari. Salah satunya adalah pantangan membangun rumah dari tembok dan genting Semuanya harus terbuat dari bambu atau kayu dengan atap numbia atau juk Masyarakat meyakini jika ada warga yang membangun rumah dari tembok, seluruh kampung akan mendapat musibah. Warga juga dilarang membuat kamar mandi atau jamban di masing-masing rumah. Sebagai gantinya, mereka menggunakan kamar mandi umum yang biasanya menyatu dengan kolam ikan. Bentuknya berupa bilik bambu setengah terbuka Sementara airnya berasal dari mata air yang mengalir melalui pancuran. Ketiadaan tangki septik diyakini dapat mencegah pertumbuhan bakteri dan nyamuk penular demam berdarah di sekitar rumah. Selain itu, warga tidak boleh menguburkan jenazah di kawasan kampung agar air tanah bdak tercemar. Sumur bor pun tidak boleh dibangun karena tanah di di Desa Karangpaninggal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis ini tergolong labil. Pantangan juga hadir di beberapa situs bersejarah bekas peninggalan Kerajaan Galuh. Ada hutan keramat Leuweung Gede, Gunung Barang yang diyakini sebagai tempat penyimpanan barang kerajaan, dan tempat pemandian Ciasihan. Di sini, masyarakat sering mementaskan kesenian calung, reog, sandiwara, tagoni, jaipongan, kasidah, ronggeng. dan dangdut. Berwisata ke Kampung Kuta akan menambah pengalaman sekaligus mengasah kearifan pemikiran sesuai tradisi nenek moyang.
Pulo.png
10
Paket Kampung Adat Pulo
Di dalam kompleks Candi Cangkuang, terdapat perkampungan adat yang didirikan oleh Embah Dalem Arif Muhammad pada abad ke-17. la merupakan seorang pejuang Mataram yang kemudian singgah dan menyebarkan agama Islam di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. la memiliki tujuh anak, yakni enam perempuan dan satu laki-laki. Karenanya, terdapat enam rumah dan satu musala di Kampung Pulo. Dari masa ke masa, tidak boleh ada penambahan rumah, harus tetap berjumlah tujuh pokok bangunan Anak yang menikah harus meninggalkan kampung. Baru kalau orang tuanya meninggal, keluarga anak perempuan boleh masuk kembali untuk menggantikannya. Masyarakat adat Kampung Pulo juga tidak boleh beternak binatang besar berkaki empat, seperti kambing, sapi, atau kerbau. Kehadiran hewan besar tersebut dikhawatirkan dapat merusak sawah, kebun, dan makam yang tersebar di berbagai area kampung. Selain pola hidup sehari-hari, penduduk Kampung Pulo juga masih melestarikan tradisi Hindu. Misalnya dengan memandikan benda pusaka, syukuran, serta ritual lainnya. Terkait kejadian-kejadian pada masa silam, warga bida boleh memukul gong besar dan dilarang berziarah pada hari Rabu. Berkunjung ke kawasan ini akan memberikan beragam pengalaman sekaligus, dari wisata budaya, sejarah, hingga pesona magis Kampung Pulo yang seolah-olah terisolasi oleh Situ Cangkuang.
Baduy.png
11
Paket Baduy
Baduy adalah sebuah kelompok masyarakat yang tinggal di wilayah Banten, Indonesia. Mereka dikenal karena mempertahankan gaya hidup tradisional yang sangat konservatif dan menjaga keaslian budaya mereka. Ada dua kelompok Baduy utama: Baduy Dalam (Baduy yang lebih dalam) dan Baduy Luar (Baduy yang lebih luar). Baduy Dalam adalah kelompok yang lebih terisolasi dan mematuhi aturan-aturan adat yang ketat. Mereka hidup sederhana, tanpa listrik, alat-alat modern, dan pakaian yang sangat tradisional. Baduy Dalam juga menjalankan kepercayaan adat yang unik. Sementara itu, Baduy Luar memiliki kontak yang lebih banyak dengan dunia luar dan mungkin memadukan elemen-elemen modern dalam gaya hidup mereka, meskipun masih mempertahankan beberapa aspek tradisional. Baduy dikenal karena mempertahankan kelestarian alam dan lingkungan sekitarnya serta memiliki peran penting dalam melestarikan budaya Sunda kuno. Mereka juga memiliki nilai-nilai sosial yang kuat dan menghargai kehidupan yang sederhana.
Alamat Kantor
kp Cempaka Mekar No.6 Rt 01 Rw 04, Desa Cimareme Kecamatan Ngamprah Kabupaten Bandung Barat 40552
Kantor Cabang
Jl. Anggrek Rosliana V No. 8, Kelurahan Kemanggisan, Kec. Palmerah - Jakarta Barat
link Cepat
Copyright © 2023 SOS. All Rights Reserved by PT Sangkuriang Outdoor Services
Ikuti Kami